Tanggung Jawab Kolektif untuk Keselamatan Pelayaran, Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya Jadi Peringatan

- Pewarta

Thursday, 3 July 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasca Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, Pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., S.H., M.H., M.Mar., desak audit menyeluruh armada pelayaran.

Pasca Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya, Pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., S.H., M.H., M.Mar., desak audit menyeluruh armada pelayaran.

Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali cermin rapuhnya keselamatan pelayaran Nasional, Capt. Hakeng: laut tak pernah beri ampun terhadap kecerobohan
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali cermin rapuhnya keselamatan pelayaran Nasional, Capt. Hakeng: laut tak pernah beri ampun terhadap kecerobohan

Maritim Indomesia — Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu malam, 2 Juli 2025, menambah daftar panjang tragedi pelayaran nasional yang menelan korban jiwa. Kurang dari 30 menit setelah bertolak dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk, kapal naas tersebut karam di salah satu jalur laut tersibuk di Indonesia, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta menjadi alarm keras bagi sistem keselamatan pelayaran nasional.

Pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., S.H., M.H., M.Mar., menilai peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan teknis, tetapi mencerminkan kegagalan sistemik dalam tata kelola keselamatan pelayaran, mulai dari aspek teknis, operasional, hingga tanggung jawab kelembagaan.

“Truk dan kendaraan berat di atas kapal penyeberangan bukan hanya penumpang pasif. Mereka adalah beban dinamis yang harus diamankan dengan sistem lashing agar tidak bergeser saat terjadi guncangan,” ungkap Capt. Hakeng.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tanpa lashing yang disiplin, stabilitas kapal bisa terganggu dan mengakibatkan kemiringan hingga tenggelam,” tegasnya.

Dalam manifest, KMP Tunu Pratama Jaya memuat 22 kendaraan termasuk 14 truk tronton dan mengangkut 65 orang. Sayangnya, dugaan sementara menunjukkan tidak semua kendaraan dilashing dengan baik. Capt. Hakeng menyebut kelalaian seperti ini sangat fatal dan tidak bisa dibenarkan oleh alasan efisiensi, keterbatasan alat, atau tekanan jadwal.

“Praktik keselamatan di lapangan terlalu sering dikalahkan oleh tekanan ekonomi. Pengejaran jadwal, intervensi dari pemilik kendaraan, dan kelonggaran petugas lapangan menciptakan kombinasi mematikan. Padahal, aturan pemerintah sudah jelas, pengamanan muatan adalah bagian tak terpisahkan dari syarat kelayakan pelayaran,” imbuhnya.

Ia menekankan bahwa dalam banyak kasus, kapal diberangkatkan tanpa inspeksi menyeluruh. Petugas kadang menutup mata demi kelancaran operasional. Dalam konteks ini, tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya adalah bentuk kegagalan etis dan kelembagaan.

“Insiden ini seharusnya menyadarkan kita bahwa reformasi total dalam sistem keselamatan transportasi laut tidak bisa ditunda. Audit menyeluruh terhadap armada kapal penyeberangan aktif harus segera dilakukan, terutama yang melayani jalur-jalur vital seperti Selat Bali,” tegas Capt. Hakeng.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan berlapis di pelabuhan. Pemeriksaan tidak boleh sekadar cek visual atau manifest semata. Syahbandar dan operator pelabuhan harus bertanggung jawab penuh terhadap kelayakan pelayaran, tanpa kompromi.

Tak hanya pemerintah pusat, Capt. Hakeng menilai pemerintah daerah, BUMN pelabuhan, dan operator swasta juga memikul tanggung jawab yang sama besar. Menurutnya, budaya keselamatan harus tumbuh sebagai komitmen bersama, bukan sekadar slogan atau SOP di atas kertas.

“Sanksi tegas harus diberikan kepada petugas atau operator yang terbukti lalai. Lebih dari itu, perlu evaluasi ulang terhadap sistem sertifikasi keselamatan bagi awak kapal dan operator,” katanya.

Ia menambahkan bahwa simulasi penyelamatan dan pelatihan evakuasi harus menjadi latihan rutin, bukan sekadar seremoni. Bahkan, penumpang pun harus dibekali pemahaman mengenai keselamatan sejak dari pembelian tiket hingga berada di atas kapal.

“Keselamatan tidak boleh dianggap urusan belakang. Laut tidak pernah memberi ampun terhadap kecerobohan. Pendidikan keselamatan harus menjadi budaya, bukan formalitas,” ujar Capt. Hakeng.

Ia menutup pernyataannya dengan seruan bahwa tragedi KMP Tunu Pratama Jaya tidak boleh sekadar menjadi headline berita, tapi harus menjadi pelajaran kolektif dan momentum perbaikan menyeluruh.

“Negara harus hadir tidak hanya saat evakuasi, tetapi juga dalam pencegahan. Solusi jangka panjang ada pada budaya keselamatan yang hidup dan mengakar di seluruh lini transportasi laut Indonesia,” tutup Capt. Hakeng. (ire djafar)

Berita Terkait

IPCM Perkuat Fondasi Kinerja: Rakernas 2026 Fokus Pada Integrasi, Efisiensi dan Keunggulan Layanan
Perkuat Layanan Maritim Global, SPJM Teken Kerja Sama Kemitraan Strategis dengan NORDEN A/S
SPSL Group Annual Meeting 2026: Perkuat Transformasi, PT Multi Terminal Indonesia Borong 3 Penghargaan
Tingkatkan Konektivitas Pelayaran, PELNI Rampungkan Implementasi SisKomKap di 25 Kapal Penumpang
PT Multi Terminal Indonesia Pastikan, Kegiatan Pelayanan Operasional Tetap Berjalan Normal Selama Ramadhan
Satukan Tekad, PT Multi Terminal Indonesia Gelar Rapat Kerja Tahun 2026
Pelindo Petikemas Dukung Koperasi Merah Putih Ekspor 50 Ton Arang Tempurung Kelapa ke China
Mudik Gratis Lebaran 2026, Pelindo Siapkan 7.000 Kursi bagi Masyarakat

Berita Terkait

Tuesday, 3 March 2026 - 09:21 WIB

IPCM Perkuat Fondasi Kinerja: Rakernas 2026 Fokus Pada Integrasi, Efisiensi dan Keunggulan Layanan

Tuesday, 3 March 2026 - 08:31 WIB

Perkuat Layanan Maritim Global, SPJM Teken Kerja Sama Kemitraan Strategis dengan NORDEN A/S

Tuesday, 3 March 2026 - 08:13 WIB

SPSL Group Annual Meeting 2026: Perkuat Transformasi, PT Multi Terminal Indonesia Borong 3 Penghargaan

Tuesday, 3 March 2026 - 07:56 WIB

Tingkatkan Konektivitas Pelayaran, PELNI Rampungkan Implementasi SisKomKap di 25 Kapal Penumpang

Tuesday, 3 March 2026 - 07:48 WIB

PT Multi Terminal Indonesia Pastikan, Kegiatan Pelayanan Operasional Tetap Berjalan Normal Selama Ramadhan

Berita Terbaru