Maritim Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat sistem peringatan dini serta mitigasi bencana hidrometeorologi di seluruh Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan ketahanan terhadap ancaman bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan dinamika geotektonik.
Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., menyampaikan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerentanan bencana tertinggi di dunia karena posisi geografis dan geotektoniknya yang berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia.
“Negara kita memiliki 13 segmen megathrust yang sebagian belum melepaskan energi tektoniknya. Artinya, potensi gempa besar masih mungkin terjadi kapan saja,” ujar Faisal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang tahun 2025, BMKG mencatat sebanyak 850 kali gempa yang dirasakan masyarakat. Sementara itu, cuaca ekstrem menjadi penyumbang terbesar kejadian bencana di Indonesia, terdiri dari 65% hujan lebat, 27% angin kencang, serta puting beliung dan hujan es yang dominan di wilayah Jawa Barat.
Selain potensi gempa dan cuaca ekstrem, Faisal juga menyoroti meningkatnya risiko kekeringan serta penurunan kualitas udara. Berdasarkan pemantauan data PM2.5 di 27 lokasi, DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Lampung mencatat hari dengan kualitas udara tidak sehat terbanyak, dengan Jakarta berada di peringkat pertama, mencapai sekitar 100 hari udara tidak sehat sepanjang tahun 2024.
Penguatan Sistem Deteksi dan Infrastruktur Peringatan Dini
Sebagai lembaga yang berada di hulu sistem penanganan bencana nasional, BMKG memiliki peran vital dalam menyediakan informasi dan peringatan dini untuk mendukung aksi cepat berbagai lembaga seperti BNPB dan BASARNAS.
“Kami memperkuat sistem deteksi dini melalui pengadaan radar cuaca, radar maritim, serta sistem pengolahan data berbasis High Performance Computing (HPC),” jelas Faisal.
Sejumlah proyek strategis tengah dijalankan BMKG untuk memperkuat infrastruktur tersebut, di antaranya:
— Pembangunan radar cuaca di Muara Tewe serta tiga radar maritim di Medan, Batam, dan Padang yang didanai melalui SBSN.
— Maritime Meteorological System II (MMS II), hasil kerja sama dengan Prancis untuk penguatan sistem meteorologi maritim.
— Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) bersama BNPB yang berhasil mempercepat waktu penyampaian peringatan dini tsunami dari 5 menit menjadi 3 menit.
Selain itu, BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengurangi dampak hujan ekstrem maupun memperkuat curah hujan di wilayah terdampak kekeringan. Sepanjang 2025, operasi ini telah dilakukan selama 52 hari dengan hasil signifikan — peningkatan curah hujan hingga 73% di Sumatera dan Kalimantan Selatan, serta pengurangan curah hujan hingga 37% di kawasan Jabodetabek.
Sebagai strategi mitigasi non-struktural, BMKG terus memperkuat literasi publik melalui berbagai program edukatif seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), serta BMKG Goes to School.
“Tahun ini lebih dari 6.000 peserta di seluruh Indonesia telah mengikuti kegiatan literasi kebencanaan yang kami selenggarakan,” ungkap Faisal.
Program-program tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana.
Untuk tahun 2026, BMKG akan memfokuskan anggaran pada penguatan sistem peringatan multi-bahaya, peningkatan layanan berbasis data, serta perluasan jejaring radar dan sensor di wilayah rawan bencana.
“BMKG berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik melalui kolaborasi lintas lembaga agar setiap peringatan dini dapat diterima masyarakat secara cepat, tepat, dan akurat demi keselamatan serta kesejahteraan bangsa,” tutup Faisal. (ire djafar)







