Serukan Kebangkitan Industri Maritim Nasional, BHS: SMK3 adalah Investasi, Bukan Beban

- Pewarta

Tuesday, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Dewan Penasehat IPERINDO, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS) tekankan urgensi SMK3 dan penguatan regulasi maritim.
Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Dewan Penasehat IPERINDO, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS) tekankan urgensi SMK3 dan penguatan regulasi maritim.

Maritim Indonesia — Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Dewan Penasehat Ikatan Perusahaan Industri Kapal Indonesia (IPERINDO), Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyerukan pentingnya kebangkitan industri maritim nasional melalui penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) serta pembenahan regulasi sektor maritim. Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Awareness Safety Leadership dan Bimbingan Teknis SMK3 yang digelar IPERINDO di Gedung PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), Jakarta Utara, Selasa (25/11).

Di hadapan sekitar 100 perusahaan galangan kapal serta undangan lain yang hadir, Bambang Haryo menegaskan bahwa maritim harus kembali ditempatkan sebagai sektor strategis dalam pembangunan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita harus menyuarakan industri maritim lebih keras lagi sehingga dunia maritim lebih diperhatikan. Tanpa kapal yang berjalan, logistik tidak terdistribusi dan masyarakat tidak bisa berpindah antarpulau,” ungkapnya.

Menurutnya, transportasi laut adalah fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan 2/3 wilayahnya adalah laut.

SDM sebagai Faktor Penentu, SMK3 Bukan Beban tetapi Investasi

Bambang Haryo menyampaikan bahwa industri galangan kapal merupakan sektor padat karya, padat teknologi, dan padat modal, sehingga kualitas sumber daya manusia menjadi aset terbesar yang menentukan produktivitas.

“Operasional galangan sangat bergantung pada SDM. Modal bisa berkembang atau hancur tergantung pada kualitas SDM yang mengelolanya,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa SMK3 harus dipahami sebagai investasi, bukan beban biaya.

“Masih ada galangan yang menganggap SMK3 sebagai beban. Padahal ini adalah investasi yang bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi alat, dan menambah  kepercayaan masyarakat.” tambahnya.

Dikatakan juga,  industri galangan memiliki tingkat risiko kerja yang tinggi sehingga penerapan SMK3 wajib dilakukan secara konsisten, bukan hanya sebatas mendapatkan sertifikasi.

Dalam kesempatan itu, Bambang Haryo menekankan bahwa sektor maritim membutuhkan perhatian struktural berupa regulasi khusus dan kelembagaan yang lebih fokus.

“Maritim ini sangat kompleks, ada perikanan, offshore, transportasi, dan banyak lagi. Sudah seharusnya ada Direktur Industri Maritim yang berdiri sendiri agar sektor ini lebih terdengar lebih diperhatikan dan tidak diremehkan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa UU Keselamatan Kerjav yang  telah ada sejak  Tahun 1970 sudah tidak relevan dengan perkembangan industri saat ini.

“Undang-undang itu sudah berusia puluhan tahun, sudah waktunya direvisi. Saya akan mendorong Badan Legislasi DPR untuk mengevaluasinya.” ujarnya.

Bambang Haryo berharap penerapan SMK3 tidak hanya dilakukan oleh galangan kapal, tetapi juga oleh sektor pelayaran yang menjadi pengguna jasa. Dengan lebih dari 21 ribu kapal di bawah BKI, ia menilai edukasi dan pemahaman K3 sangat penting untuk mencegah kecelakaan kerja yang merugikan galangan maupun operator kapal.

“Jika terjadi kecelakaan, reputasi galangan ikut terdampak. Kita ingin industri ini menuju zero incident sehingga kepercayaan publik semakin besar.” ungkap Bambang Haryo.

Bambang Haryo mengapresiasi penyelenggaraan Bimtek SMK3 dan berharap program tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat budaya keselamatan di industri galangan kapal nasional.

“Semoga Bimtek ini membawa manfaat besar bagi industri galangan. IPERINDO akan terus mendorong anggota yang belum menerapkan SMK3 agar segera berbenah,” pungkasnya. (ire djafar)

Berita Terkait

RAC 2026 Tentukan Arah Organisasi Lima Tahun Mendatang, DPC INSA Jaya Ajak Anggota Berpartisipasi Aktif
Perkuat Modernisasi Teknologi Hidrografi Nasional, Pushidrosal Laksanakan Factory Visit ke Teledyne Marine Denmark dan Teledyne Caris Amsterdam
IPCM Masuk Indeks IDX MES BUMN 17, Perkuat Posisi Sebagai Emiten BUMN Syariah
RAC 2026 Tentukan Arah Organisasi Lima Tahun Mendatang, DPC INSA Jaya Ajak Anggota Berpartisipasi Aktif
Dorong Regenerasi Pelaut Nasional, PELNI Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Pendidikan
Semangat Idul Adha Menguatkan Kepedulian, ASDP Salurkan Kurban Hingga Wilayah 3TP
Arus Ekspor Menguat, Kinerja IPCC Awal Kuartal ll Kian Solid dan Tumbuh Hingga 16,01%
Perkuat Perdagangan Intra-Asia, IPC TPK Layani Perdana Service SCJX X-Press Feeders

Berita Terkait

Tuesday, 2 June 2026 - 06:02 WIB

RAC 2026 Tentukan Arah Organisasi Lima Tahun Mendatang, DPC INSA Jaya Ajak Anggota Berpartisipasi Aktif

Tuesday, 2 June 2026 - 04:59 WIB

Perkuat Modernisasi Teknologi Hidrografi Nasional, Pushidrosal Laksanakan Factory Visit ke Teledyne Marine Denmark dan Teledyne Caris Amsterdam

Monday, 1 June 2026 - 02:25 WIB

IPCM Masuk Indeks IDX MES BUMN 17, Perkuat Posisi Sebagai Emiten BUMN Syariah

Sunday, 31 May 2026 - 08:00 WIB

RAC 2026 Tentukan Arah Organisasi Lima Tahun Mendatang, DPC INSA Jaya Ajak Anggota Berpartisipasi Aktif

Friday, 29 May 2026 - 16:39 WIB

Dorong Regenerasi Pelaut Nasional, PELNI Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Pendidikan

Berita Terbaru