Buruh Pelabuhan akan Deklarasikan Dewan Baru, Praktisi Nilai Berpotensi Tumpang Tindih

- Pewarta

Tuesday, 10 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masykur Isnan, S.H., M.H., Managing Partner Masykur Isnan & Partner Lawfirm.

Masykur Isnan, S.H., M.H., Managing Partner Masykur Isnan & Partner Lawfirm.

Maritim Indonesia – Rencana pembentukan “Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia” yang diagendakan pada hari Kamis tanggal 12 Februari 2026 mendatang, mendapat sorotan kritis dari kalangan praktisi ketenagakerjaan, salah satunya H. Masykur Isnan, S.H., M.H., Managing Partner Masykur Isnan & Partner Lawfirm. Menurutnya, urgensi dan landasan substantif dari inisiatif tersebut masih dipertanyakan.

Dikatakan juga, pembentukan lembaga baru di tengah tatanan hubungan industrial yang sudah ada justru berisiko menimbulkan tumpang tindih wewenang dan mempersulit proses penyelesaian persoalan ketenagakerjaan. Upaya yang jauh lebih tepat dan mendesak adalah dengan memperkuat dan mengoptimalkan peran Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit yang sudah ada, khususnya dalam bentuk LKS Tripartit Sektoral untuk pelabuhan.

“Daripada membentuk dewan baru yang tidak memiliki dasar urgensi yang jelas, langkah strategisnya justru terletak pada penguatan mekanisme dialog tripartit sektoral yang melibatkan perwakilan pekerja, pengusaha, dan pemerintah secara resmi. Ini lebih efektif, legitimate, dan sesuai dengan kerangka hukum ketenagakerjaan nasional,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, dia mempertanyakan konsistensi gerakan tersebut dengan agenda nasional yang sering disandingkan dalam narasinya.

“Komitmen terhadap Asta Cita Presiden dan Indonesia Emas 2045 harus diwujudkan dalam program kerja nyata yang selaras dengan kebijakan strategis pemerintah, bukan hanya menjadi narasi pengiring yang tidak memiliki peta jalan yang terukur dan inklusif,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa sektor pelabuhan sebagai tulang punggung logistik nasional memerlukan stabilitas dan kepastian.

“Yang dibutuhkan pekerja dan industri saat ini adalah penguatan fungsi serikat pekerja yang ada, peningkatan kualitas perundingan, serta fokus pada isu-isu mendasar seperti keselamatan kerja, kesejahteraan, dan peningkatan kompetensi. Pembentukan dewan baru tanpa kejelasan fungsi hanya akan mengalihkan perhatian dari agenda-agenda substantif tersebut,” ujarnya.

Sorotan ini diharapkan dapat menjadi masukan kritis bagi seluruh pemangku kepentingan, agar setiap inisiatif dalam sektor ketenagakerjaan benar-benar lahir dari kebutuhan mendesak, memiliki landasan yang kuat, dan tidak justru kontra-produktif terhadap iklim hubungan industrial yang stabil dan berkelanjutan. (ire djafar)

Berita Terkait

MNP Dilirik Investor Global, Abu Dhabi Ports Group Tinjau Potensi Hub Indonesia Timur
Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Integritas Melalui TWG Bertema ISO 37001
Bank Mandiri Perkuat Sinergi Infrastruktur di Makassar New Port
Pelindo Regional 4 Perkuat Kompetensi Pekerja Lewat Program Budaya TWG
Sambut HUT Ke-74, PELNI Hadirkan Program Bakti Sosial untuk Sekolah dan Anak Yatim
Perkuat Skema _Hub & Spoke_, PELNI Perluas Kerja Sama Strategis dengan Meratus Line di Program Tol Laut
Layani 652 Ribu Penumpang, PT PELNI (Persero) Catat Kinerja Positif pada Angkutan Lebaran 2026
Kelancaran Terjaga, Command Center Tanjung Priok Resmi Berakhir

Berita Terkait

Tuesday, 21 April 2026 - 15:17 WIB

MNP Dilirik Investor Global, Abu Dhabi Ports Group Tinjau Potensi Hub Indonesia Timur

Tuesday, 21 April 2026 - 15:13 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Integritas Melalui TWG Bertema ISO 37001

Tuesday, 21 April 2026 - 15:07 WIB

Bank Mandiri Perkuat Sinergi Infrastruktur di Makassar New Port

Tuesday, 21 April 2026 - 13:37 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Kompetensi Pekerja Lewat Program Budaya TWG

Tuesday, 21 April 2026 - 13:25 WIB

Sambut HUT Ke-74, PELNI Hadirkan Program Bakti Sosial untuk Sekolah dan Anak Yatim

Berita Terbaru