Gangguan Selat Hormuz, Berpotensi Naikkan Biaya Truk Hingga 12 Persen dan Harga Barang Hingga 0,8 Persen

- Pewarta

Monday, 2 March 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi.

Maritim Indonesia – Eskalasi konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya distribusi nasional dan menekan harga barang di dalam negeri. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20-25 persen perdagangan LNG global, sehingga setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik. Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga USD50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5-4 persen. Jika harga solar meningkat 20 persen, ongkos truk berpotensi naik 7-8 persen. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen.

Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen. Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.

Risiko Inflasi Distribusi Nasional dan Langkah Mitigasi

Setijadi menegaskan bahwa struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi. Risiko terbesar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok.

Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda: kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik. Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin.

SCI menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi. Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.

Dari sisi industri, diperlukan efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, serta penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat. (ire djafar)

Berita Terkait

Kenaikan Harga BBM Berdampak pada Layanan Pemanduan dan Penundaan di Pelabuhan
Pelindo dan Asosiasi Pelabuhan Perkuat Sinergi Layanan Logistik
Pelindo dan Tiran Nusantara Group Jajaki Peluang Kerja Sama
Kinerja Kuartal I 2026 Tumbuh 4,5%, Terminal Teluk Lamong Perkuat Peran di Logistik Nasional
Tarif Disesuaikan, ASDP Perkuat Layanan dan Konektivitas Tarakan–Sebawang
Pelindo dan Pemkot Makassar Sepakat Tata Pelabuhan Lebih Baik
ASDP Gandeng Pemprov Aceh Perkuat Layanan Konektivitas Maritim
Pelindo Marine Perluas Layanan, Dukung Kelancaran Distribusi Minerba di Sulawesi dan Kalimantan

Berita Terkait

Thursday, 16 April 2026 - 03:49 WIB

Kenaikan Harga BBM Berdampak pada Layanan Pemanduan dan Penundaan di Pelabuhan

Wednesday, 15 April 2026 - 00:43 WIB

Pelindo dan Asosiasi Pelabuhan Perkuat Sinergi Layanan Logistik

Wednesday, 15 April 2026 - 00:33 WIB

Pelindo dan Tiran Nusantara Group Jajaki Peluang Kerja Sama

Tuesday, 14 April 2026 - 13:41 WIB

Kinerja Kuartal I 2026 Tumbuh 4,5%, Terminal Teluk Lamong Perkuat Peran di Logistik Nasional

Tuesday, 14 April 2026 - 12:11 WIB

Tarif Disesuaikan, ASDP Perkuat Layanan dan Konektivitas Tarakan–Sebawang

Berita Terbaru

Berita

Pelindo dan Asosiasi Pelabuhan Perkuat Sinergi Layanan Logistik

Wednesday, 15 Apr 2026 - 00:43 WIB

Berita

Pelindo dan Tiran Nusantara Group Jajaki Peluang Kerja Sama

Wednesday, 15 Apr 2026 - 00:33 WIB