IPC Terminal Petikemas Dorong Inklusi Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas Melalui Program TJSL di Kalimantan Barat

- Pewarta

Saturday, 23 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maritim Indonesia – IPC Terminal Petikemas kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan yang inklusif melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa Pelatihan Keterampilan Perawatan Wajah dan Tubuh bagi Terapis Perempuan Penyandang Disabilitas di Kalimantan Barat. Program hasil kolaborasi dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kalimantan Barat dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi langkah nyata dalam membuka akses keterampilan dan peluang ekonomi bagi perempuan penyandang disabilitas.

Selama tiga hari, 11–13 Mei 2026, sebanyak 20 perempuan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan keterampilan facial dan massage yang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi peserta. Selain praktik langsung bersama trainer profesional, peserta juga mendapatkan pembekalan pelayanan pelanggan hingga dasar kewirausahaan sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.

Corporate Secretary IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, menegaskan bahwa program TJSL perusahaan diarahkan untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bagi kami, TJSL bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membuka peluang dan menciptakan perubahan yang nyata. Melalui program ini, kami ingin perempuan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat, Permai Budi Susatyo. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan.

“Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Berdasarkan Data SIDT tahun 2026, terdapat 338.257 pelaku UMKM di Kalimantan Barat dan sebanyak 88.293 pelaku kewirausahaan. Artinya, peluang untuk bertumbuh di sektor usaha terbuka luas, termasuk bagi penyandang disabilitas,” katanya.

Bagi banyak perempuan penyandang disabilitas, tantangan terbesar kerap bukan terletak pada kemampuan, melainkan keterbatasan akses dan kesempatan. Karena itu, program ini dirancang sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh yang mempertemukan perusahaan, komunitas disabilitas, pemerintah daerah, trainer profesional, hingga mitra usaha lokal untuk bersama-sama membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan disabilitas.

Ketua HWDI Kalimantan Barat, Linda Fardini, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dihadirkan IPC Terminal Petikemas.

“Perempuan disabilitas juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk mandiri dan berkembang. Kami berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal nyata untuk berusaha dan meningkatkan kualitas hidup. Terima kasih kepada IPC Terminal Petikemas atas kepedulian dan dukungan yang diberikan bagi perempuan disabilitas di Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan IPC Terminal Petikemas dalam menghadirkan dampak sosial melalui pendekatan from skill to sustainability, yaitu proses pemberdayaan yang dimulai dari penguasaan keterampilan dasar, praktik langsung, hingga membuka akses terhadap peluang pengembangan usaha di masa mendatang.

Inisiatif tersebut juga sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas. Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Kesetaraan Gender (SDG 5), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8), serta Berkurangnya Kesenjangan (SDG 10).

Melalui program ini, IPC Terminal Petikemas percaya bahwa inklusi tidak berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui akses, keterampilan, dan peluang nyata agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan mandiri. (ire djafar)

Berita Terkait

Pushidrosal dan UKHO Perkuat Kerja Sama di Bidang Hidrografi
Danpushidrosal Terima Alexander Dalrymple Award 2026, Pengakuan atas Kontribusi Hidrografi Indonesia
Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman
Lima Tahun Bersama Pelindo, Terminal Teluk Lamong Kembali Raih Penghargaan Nasional
PELNI dan BPH Migas Perkuat Tata Kelola JBT untuk Dukung Konektivitas Nasional
Inovasi Baru Terminal Teluk Lamong : Luncurkan Lamong Cukur, Terobosan Baru Program TJSL
PELNI Salurkan Ribuan Life Jacket, Perkuat Keselamatan Masyarakat Pesisir
IPCM Perluas Pasar, Perkuat Operasional di Balikpapan dan Tarakan

Berita Terkait

Wednesday, 14 October 2026 - 11:45 WIB

Pushidrosal dan UKHO Perkuat Kerja Sama di Bidang Hidrografi

Tuesday, 13 October 2026 - 17:29 WIB

Danpushidrosal Terima Alexander Dalrymple Award 2026, Pengakuan atas Kontribusi Hidrografi Indonesia

Monday, 12 October 2026 - 17:05 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

Sunday, 11 October 2026 - 18:20 WIB

Lima Tahun Bersama Pelindo, Terminal Teluk Lamong Kembali Raih Penghargaan Nasional

Friday, 9 October 2026 - 10:43 WIB

PELNI dan BPH Migas Perkuat Tata Kelola JBT untuk Dukung Konektivitas Nasional

Berita Terbaru

Berita

Pushidrosal dan UKHO Perkuat Kerja Sama di Bidang Hidrografi

Wednesday, 14 Oct 2026 - 11:45 WIB