Maritim Indonesia – Indonesia Women In Transpotation & Logistics (IWTL), yang merupakan sebuah organisasi pengusaha wanita dibidang logistik dan transportasi, tidak hanya berjuang untuk kemajuan Logisitic di Indonesia, namun juga selalu mengedepankan kegiatan-kegiatan sosial melalui program-program Corporate Social Responsibility (CSR) IWTL.
IWTL terus berupaya menjaga kekompakan dalam segala hal, bukan hanya saling empowering terhadap sesama anggota, tapi juga terus kompak dalam melakukan berbagai aksi sosial dan berupaya untuk tetap berkontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat.
Sejalan dengan itu, baru-baru ini perjalanan penuh makna dan kepedulian dilakukan oleh tim IWTL dalam aksi sosialnya ke Pondok Pesantren Fastabiqoul Khoirots, Muara Gembong, Bekasi Utara. Dengan semangat berbagi, tim IWTL menyalurkan bantuan bagi para santri yang berasal dari berbagai daerah dan keluarga prasejahtera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pesantren Fastabiqoul Khoirots, beroperasi tanpa memungut biaya dari santri, namun tetap membuka pintu bagi siapa pun yang ingin memberikan dukungan. Dengan fasilitas yang masih sangat terbatas, pesantren ini terus berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi para santri, meskipun harus menghadapi tantangan berat, seperti kondisi asrama yang sempit dan akses menuju ke lokasi pesantren yang sulit,” kata Ketua Umum IWTL Susana Riana Sari.
Perjalanan Penuh Perjuangan
Pada kegiatan IWTL Peduli kali ini, cukup berbeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya, yang mana kali ini perjalanan haru dan penuh harapan bagi tim IWTL Peduli untuk menjangkau santri yang berada di pelosok terpencil Muara Gembong harus melewati perjalanan yang penuh rintangan dengan menembus banjir, jalan terjal dengan kondisi jalanan yang cukup sulit dan memprihatinkan. Namun perjalanan tersebut menjadi penuh makna karena kedatangan dan dukungan IWTL untuk pendidikan mereka seolah membawa harapan baru dan mampu menghadirkan senyum bagi para santri di Fastabiqoul Khoirots.
“Menuju lokasi pesantren bukanlah hal mudah, dari Jakarta, perjalanan membutuhkan waktu sekitar tiga jam, bahkan bisa lebih lama jika kondisi jalan kurang bersahabat,” ungkap Riana.
Selain itu, lanjut Riana, akses ke pesantren yang berada di area rawa menuntut warga dan pengunjung untuk menyeberang menggunakan perahu tarik seharga Rp3.000 per trip. Sepeda motor menjadi satu-satunya kendaraan yang dapat melintas di jalur sempit tersebut.
“Saat hujan deras mengguyur, sungai yang berada di samping pesantren sering meluap dan menyebabkan asrama terendam banjir. Di tengah keterbatasan ini, para santri tetap bersemangat menuntut ilmu dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh harapan,” tutur Riana.
Dukungan dan Harapan
Kunjungan IWTL Peduli ini tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga menghadirkan semangat dan harapan bagi para santri dan pengurus pesantren. Dengan latar belakang masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari hasil mencari ikan di sungai, kondisi ekonomi di wilayah tersebut memang memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan para dermawan.
“Alhamdulillah, hari ini CSR IWTL telah menyerahkan amanah dari anggota dan sahabat-sahabat IWTL, kami sangat bersyukur bisa hadir dan berbagi dengan mereka. Ini adalah pengalaman yang sangat mengharukan, melihat langsung perjuangan mereka dalam mendapatkan pendidikan di tengah segala keterbatasan,” ungkap Riana.
IWTL berharap, bantuan ini bisa menjadi awal dari lebih banyak kepedulian terhadap pesantren dan komunitas di daerah terpencil. Dengan dukungan yang berkelanjutan, santri di Pondok Pesantren Fastabiqoul Khoirots bisa mendapatkan fasilitas yang lebih layak untuk menuntut ilmu dan meraih masa depan yang lebih baik.
IWTL juga mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan sekolah-sekolah atau pesantren di wilayah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. Fasilitas yang jauh dari kata layak ini menjadi tantangan besar bagi anak-anak di daerah tersebut untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Lebih lanjut, IWTL mengajak masyarakat luas, organisasi, serta perusahaan-perusahaan besar untuk ikut berkontribusi dalam memberikan dukungan nyata. Menurut Riana, kepedulian bersama ini bukan hanya sekadar bentuk tanggung jawab sosial terhadap lingkungan masyarakat sekitar, tetapi juga investasi bagi masa depan generasi penerus bangsa.
“Dengan adanya perhatian lebih terhadap pendidikan di daerah terpencil, diharapkan anak-anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita dan membangun masa depan yang lebih cerah,” pungkas Riana. (ire djafar)