Warga Kebon Bawang Tolak Pembangunan 3 Tower SUTET, Desak Pemkot Jakarta Utara Mendengar Aspirasi

- Pewarta

Saturday, 11 January 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maritim Indonesia – Warga Kelurahan Kebon Bawang, Jakarta Utara, menyatakan penolakan tegas terhadap pembangunan tiga tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Jalan Swatirta RT 006 RW 09. Proyek ini dianggap meresahkan dan merugikan warga setempat.

Ketua RT 05 RW 09, Sapto Nurcahyo, menjelaskan bahwa pembangunan SUTET awalnya direncanakan di Kelurahan Sungai Bambu, tepatnya di samping Jalan Tol Sedyatmo ruas Tanjung Priok-Ancol Timur-Jembatan Tiga-Pluit. Namun, lokasi tersebut tiba-tiba dipindahkan ke wilayah Kebon Bawang tanpa melalui konsultasi publik atau kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Kami warga di sini menolak dengan tegas pembangunan tiga tower SUTET di wilayah kami. Proyek ini jelas-jelas merugikan warga, baik dari segi keamanan, kesehatan, maupun ekonomi. Tegangan listrik yang tinggi sangat berisiko, terutama bagi anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, dan bayi,” ujar Sapto saat ditemui di lokasi pembangunan SUTET bersama warga terdampak pada 10 Januari 2025. Saat itu, warga juga membentangkan spanduk penolakan pembangunan SUTET.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal senada disampaikan Dimas, salah satu warga terdampak, “Kami meminta pemerintah untuk meninjau ulang proyek ini karena dampaknya sangat merugikan, baik secara kesehatan, keamanan, maupun ekonomi warga.”

Mas Seno, warga RT 06 RW 09, mengungkapkan bahwa sekitar 20 rumah di wilayahnya terdampak langsung oleh proyek ini.

“Kalau dilihat dari bentangan kabel yang melintasi RT 05 dan RT 03, totalnya ada sekitar 100 rumah yang terkena dampak. Kami merasa keberatan,” tuturnya.

Menurut warga, pembangunan tower SUTET yang dimulai pada 9 Desember 2024 lalu juga tidak transparan. Tidak ada sosialisasi dari pihak terkait, dan kompensasi yang diberikan pun dinilai tidak memadai.

“Ada uang kompensasi Rp 500 ribu yang disebut sebagai ‘uang debu’ untuk rumah yang dibongkar. Namun, pembongkaran yang dijanjikan selesai dalam satu minggu hingga kini, hampir satu bulan, belum juga rampung. Ini sangat merugikan warga,” kata salah seorang warga.

Sapto dan warga lainnya mendesak Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Mereka berharap aspirasi warga dapat didengar dan proyek SUTET ini ditinjau ulang demi melindungi kesejahteraan masyarakat sekitar. (red)

idj / idj

Berita Terkait

Throughput TPK Sorong Lampaui Target, Aktivitas Logistik Triwulan I 2026 Tumbuh Positif
Freeport dan Serikat Pekerja Sepakati PKB Baru, Tantangan Berikutnya Ada di Implementasi
Antusiasme Tinggi, Menaker Ajukan Tambahan 150 Ribu Kuota Magang Nasional 2026
Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Telah Terlaksana, Lebih dari 10 Ribu Peserta Ikuti Batch I
Pushidrosal Hadiri Konferensi ke-25 NIOHC di Bangladesh
KSP Dudung Tinjau Pelindo, Soroti Peran Strategis Pelabuhan dalam Mendukung Logistik Nasional
Hadapi Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus, ASDP Perkuat Akses Wisata Danau Toba
Tingkatkan Kesiapsiagaan Darurat, TTL Latih Tenaga Kerja dalam Penanganan P3K

Berita Terkait

Friday, 15 May 2026 - 13:32 WIB

Throughput TPK Sorong Lampaui Target, Aktivitas Logistik Triwulan I 2026 Tumbuh Positif

Friday, 15 May 2026 - 13:20 WIB

Freeport dan Serikat Pekerja Sepakati PKB Baru, Tantangan Berikutnya Ada di Implementasi

Friday, 15 May 2026 - 12:59 WIB

Antusiasme Tinggi, Menaker Ajukan Tambahan 150 Ribu Kuota Magang Nasional 2026

Friday, 15 May 2026 - 12:46 WIB

Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Telah Terlaksana, Lebih dari 10 Ribu Peserta Ikuti Batch I

Thursday, 14 May 2026 - 12:34 WIB

Pushidrosal Hadiri Konferensi ke-25 NIOHC di Bangladesh

Berita Terbaru

Berita

Pushidrosal Hadiri Konferensi ke-25 NIOHC di Bangladesh

Thursday, 14 May 2026 - 12:34 WIB