Maritim Indonesia – Dalam rangka memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 2026, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menggelar QHSSE Forum bertema Defensive Driving di Museum Maritim Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2) baru-baru ini. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat budaya keselamatan di lingkungan pelabuhan yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Forum ini dihadiri Direktur Utama IPC TPK, Guna Mulyana; Direktur Operasi dan Teknik IPC TPK, Ahmad Mimbar; perwakilan entitas Pelindo Group, mitra kerja, serta para pemangku kepentingan yang beroperasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Kegiatan juga dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi peserta sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan pekerja.
Acara dibuka oleh Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keselamatan operasional harus dimulai dari kedisiplinan individu. Menurutnya, defensive driving tidak hanya berkaitan dengan teknik berkendara, tetapi juga menyangkut sikap, mental, dan kemampuan mengendalikan emosi di tengah tekanan aktivitas operasional pelabuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengangkat tema Defensive Driving, forum ini membahas pentingnya kesadaran situasional, kewaspadaan terhadap blind spot alat berat, kepatuhan terhadap jalur operasional, serta pengendalian emosi saat berinteraksi dengan lalu lintas logistik di area pelabuhan. Dengan mobilitas tinggi kendaraan dan alat berat, seperti truk kontainer, reach stacker, RTGC, dan kendaraan operasional lainnya, kawasan pelabuhan memiliki potensi risiko kecelakaan yang signifikan.
Secara nasional, data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan angka kecelakaan kerja masih berada pada ratusan ribu kasus per tahun, dengan sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu kontributor utama. Di lingkungan pelabuhan, penerapan defensive driving dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan potensi insiden yang dapat berdampak pada keselamatan pekerja sekaligus kelancaran arus logistik.
QHSSE Forum ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bulan K3 Nasional yang melengkapi program penguatan budaya K3 di IPC TPK, seperti safety induction, refreshment K3 bagi operator alat dan pengemudi truk, inspeksi keselamatan (safety patrol) dan audit kepatuhan penggunaan APD, simulasi tanggap darurat, kampanye internal “Safety Starts With Me”, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pengelolaan Dangerous Goods sesuai SOP penanganan Barang Berbahaya dan Beracun (B3).
Manajemen IPC TPK menegaskan bahwa keselamatan kerja memiliki korelasi langsung dengan produktivitas dan kelancaran kegiatan bongkar muat. Setiap insiden, sekecil apa pun, berpotensi mengganggu operasional terminal, memperlambat pergerakan kontainer, dan berdampak pada rantai pasok nasional.
Corporate Secretary IPC TPK Pramestie Wulandary menekankan bahwa aspek keselamatan merupakan fondasi utama kinerja operasional perusahaan. Ia menyebut defensive driving sebagai kompetensi wajib bagi seluruh personel dan mitra kerja, mengingat sebagian besar aktivitas terminal melibatkan pergerakan alat dan kendaraan berat.
Melalui penguatan budaya keselamatan dan penerapan defensive driving secara kolaboratif bersama mitra kerja dan pengguna jasa, IPC TPK menargetkan terciptanya zero accident environment sekaligus memastikan kegiatan bongkar muat berjalan aman, tertib, dan efisien. Sebagai bagian dari Pelindo Group, IPC TPK berkomitmen untuk terus mendorong implementasi budaya K3 secara konsisten dan terintegrasi guna mendukung terciptanya pelabuhan yang selamat, andal, dan berdaya saing. (ire djafar)







