Maritim Indonesia – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berada di jalur strategis perdagangan energi dan logistik dunia berpotensi meningkatkan risiko gangguan terhadap stabilitas rantai pasok global serta arus logistik internasional.
Ketua Umum Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI), Liana Trisnawati, menyampaikan bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak pada jalur pelayaran internasional berpotensi menimbulkan berbagai implikasi terhadap sistem logistik global, mulai dari perubahan rute pelayaran, meningkatnya biaya asuransi dan operasional kapal, hingga potensi keterlambatan distribusi barang.
“Di tengah ketidakpastian geopolitik global, sektor pelabuhan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas rantai pasok dan kelancaran logistik nasional,” ujar Liana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan bahwa dalam momentum menjelang Hari Raya Idul Fitri, kelancaran arus logistik menjadi sangat penting untuk memastikan ketersediaan barang di berbagai wilayah tetap terjaga.
“Karena itu, sektor pelabuhan harus mampu menjaga stabilitas layanan serta memastikan distribusi logistik nasional tetap berjalan lancar di tengah dinamika global yang terus berkembang,” tambahnya.
Selain itu, lanjutnya, ABUPI mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, operator pelabuhan, pelaku industri logistik, serta seluruh pemangku kepentingan guna memastikan aktivitas kepelabuhanan tetap berjalan stabil, efisien, dan berdaya saing.
“Ketahanan logistik nasional merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi. Karena itu, sektor pelabuhan harus terus diperkuat agar mampu menghadapi berbagai dinamika global sekaligus menjaga kelancaran distribusi nasional,” tutup Liana. (ire djafar)







