Ancaman Rob Berulang, Pengamat Maritim: “Era Diskusi Selesai, Saatnya Eksekusi”

- Pewarta

Monday, 24 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat maritim Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa

Pengamat maritim Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa

Maritim Indonesia — Banjir rob yang kembali melanda wilayah pesisir Jakarta dan Kepulauan Seribu pada 23 November 2025 memperlihatkan meningkatnya kerentanan kawasan pantai utara terhadap pasang maksimum air laut. Genangan yang terjadi mengganggu aktivitas warga, memukul perekonomian nelayan, dan membatasi akses masyarakat terhadap fasilitas publik.

Pengamat maritim Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa menilai kejadian ini sebagai “sirene darurat” yang menegaskan perlunya percepatan pembangunan sistem perlindungan pesisir, termasuk Proyek Strategis Nasional Giant Sea Wall.

“Penurunan muka tanah di Jakarta mencapai 25 sentimeter per tahun, salah satu yang tercepat di dunia. Ketika darat turun dan laut naik secara bersamaan, kita bukan hanya kehilangan ruang hidup, tetapi kehilangan masa depan,” ujar Capt. Hakeng di Jakarta, Senin (24/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, banjir rob yang terjadi berulang bukan sekadar persoalan genangan harian, melainkan sudah menjadi bencana ekologis struktural yang memicu dampak kesehatan, ekonomi, dan sosial.

Capt. Hakeng menilai kebijakan penanganan sementara seperti pompa air dan perbaikan drainase tidak lagi mencukupi.

“Masyarakat pesisir tidak boleh dipaksa hidup dalam ritual bertahan dan mengungsi setiap bulan. Giant Sea Wall adalah kebutuhan mendesak, bukan konsep yang boleh ditunda,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa proyek tanggul laut raksasa sepanjang 500–535 kilometer dari Tangerang hingga Gresik itu akan menjadi sistem pertahanan utama bagi pesisir utara Jawa. Proyek ini dirancang melindungi kawasan industri, pelabuhan internasional, jalur logistik, lahan pangan, hingga sekitar 50 juta penduduk dari ancaman banjir rob dan intrusi laut.

“Jika kita gagal membangun, kita akan memanen kerugian permanen,” ujarnya.

Kerugian Ekonomi Lebih Besar daripada Biaya Proyek

Capt. Hakeng mengingatkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema pendanaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), pembentukan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, serta opsi pelibatan investor internasional. Estimasi pembangunan Giant Sea Wall mencapai US$ 80 miliar atau sekitar Rp 1.298 triliun.

“Angka ini jauh lebih kecil dibanding potensi kerugian ekonomi permanen jika proyek tidak dibangun,” tambahnya.

Menurut Capt. Hakeng, percepatan Giant Sea Wall kini telah memperoleh dukungan politik dari Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan proyek tersebut sebagai prioritas pembangunan nasional. Arahan Presiden mencakup penguatan tata kelola air tanah, perencanaan ruang pesisir, serta sistem pompa raksasa terintegrasi.

“Penegasan Presiden Prabowo adalah sinyal bahwa era diskusi selesai, dan era eksekusi harus dimulai,” ungkap Capt. Hakeng.

Selain dari kalangan akademisi dan pemerintah, desakan percepatan juga datang dari masyarakat pesisir Jakarta Utara. Selama bertahun-tahun, warga di kawasan Muara Baru, Pluit, Penjaringan, dan Marunda menyampaikan keluhan yang sama: telah membayar pajak, namun masih harus menghadapi banjir rob secara rutin.

“Keluhan ini adalah bentuk frustrasi sosial. Pesisir utara Jakarta merupakan salah satu kontributor pajak terbesar dari sektor permukiman, industri, pelabuhan, hingga logistik,” ujar Capt. Hakeng.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Giant Sea Wall bukan hanya urusan teknis, tetapi persoalan keadilan negara terhadap rakyatnya.

“Jika negara meminta warga membayar pajak, negara wajib melindungi wilayah hidup mereka,” tambahnya.

Capt. Hakeng mengingatkan bahwa sejumlah negara berhasil melindungi wilayah pesisirnya melalui infrastruktur pertahanan laut seperti Delta Works di Belanda, Saemangeum Project di Korea Selatan, dan Great Seawall di Jepang.

“Ketiga negara itu membangun sebelum bencana menyapu wilayah mereka. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar justru harus memimpin inovasi pertahanan pesisir,” ujarnya.

Waktu Terbatas

Capt. Hakeng menegaskan bahwa kejadian banjir rob kali ini harus dipandang sebagai peringatan terakhir.

“Kita tidak sedang mempertimbangkan apakah Giant Sea Wall perlu dibangun. Kita sedang memutuskan apakah kita mau selamat atau tidak,” imbuhnya.

“Dengan ancaman rob yang kian parah dan tekanan publik yang semakin besar, percepatan pembangunan Giant Sea Wall dinilai sebagai langkah mendesak untuk melindungi rakyat, ekonomi nasional, dan keberlanjutan negara,” pungkas Capt. Hakeng. (ire djafar)

Berita Terkait

Komitmen Implementasi Prinsip Keberlanjutan, IPCM Raih Tiga Penghargaan pada ESG Initiative Awards 2025
ASDP Jaga Denyut Mobilitas dan Bantu Pemulihan Bencana di Sumatera di Situasi Cuaca Ekstrem
IFBEX 2025 Resmi Dibuka: Sinergi Franchise dan Teknologi Digital Dorong Lahirnya Wirausaha Masa Depan
Pelindo Regional 4 Terima Penyerahan Izin Operasi dari Kemenhub
Danpushidrosal Tinjau Pembangunan KRI Canopus-936 di Galangan Abeking dan  Rasmussen, Jerman
Indonesia Resmi Terpilih Sebagai Anggota Dewan IMO Kategori C Periode 2026–2027
IWTL Dorong Peningkatan Literasi dan Kepatuhan Pajak di Sektor Transportasi dan Logistik
Pelindo Regional 4 dan KSOP Sinergi Tata Ulang Unit Jasa TK Bagasi di Pelabuhan Makassar

Berita Terkait

Sunday, 30 November 2025 - 08:05 WIB

Komitmen Implementasi Prinsip Keberlanjutan, IPCM Raih Tiga Penghargaan pada ESG Initiative Awards 2025

Saturday, 29 November 2025 - 15:36 WIB

ASDP Jaga Denyut Mobilitas dan Bantu Pemulihan Bencana di Sumatera di Situasi Cuaca Ekstrem

Saturday, 29 November 2025 - 15:22 WIB

IFBEX 2025 Resmi Dibuka: Sinergi Franchise dan Teknologi Digital Dorong Lahirnya Wirausaha Masa Depan

Saturday, 29 November 2025 - 14:33 WIB

Pelindo Regional 4 Terima Penyerahan Izin Operasi dari Kemenhub

Saturday, 29 November 2025 - 12:52 WIB

Danpushidrosal Tinjau Pembangunan KRI Canopus-936 di Galangan Abeking dan  Rasmussen, Jerman

Berita Terbaru

Berita

Pelindo Regional 4 Terima Penyerahan Izin Operasi dari Kemenhub

Saturday, 29 Nov 2025 - 14:33 WIB