KB P3HI: Penegakan Hukum Harus Berbasis Bukti dan Keadilan, Bukan Kriminalisasi

- Pewarta

Monday, 3 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rizma Wulan Sari, SH, MH, Sekretaris Keluarga Besar Putra Putri Purnawirawan Hakim Indonesia (KB P3HI), menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya penegakan hukum yang mengedepankan pembuktian, keadilan, dan perlindungan terhadap prinsip praduga tidak bersalah dalam penanganan perkara dugaan korupsi.

Rizma Wulan Sari, SH, MH, Sekretaris Keluarga Besar Putra Putri Purnawirawan Hakim Indonesia (KB P3HI), menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya penegakan hukum yang mengedepankan pembuktian, keadilan, dan perlindungan terhadap prinsip praduga tidak bersalah dalam penanganan perkara dugaan korupsi.

Maritim Indonesia – Semangat pemberantasan korupsi harus tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap prinsip keadilan dan due process of law. Penegakan hukum dinilai tidak boleh dibangun atas asumsi maupun target semata, melainkan harus bertumpu pada alat bukti yang sah dan proses pembuktian yang objektif.

Pandangan tersebut disampaikan Sekretaris Keluarga Besar Putra Putri Purnawirawan Hakim Indonesia (KB P3HI), Rizma Wulan Sari, SH, MH, yang mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya pemberantasan korupsi dan perlindungan terhadap hak setiap warga negara dalam proses hukum.
Menurut Rizma, keberhasilan aparat penegak hukum bukan diukur dari banyaknya tersangka atau terdakwa yang diproses, melainkan dari kemampuan membuktikan secara sah siapa yang benar-benar bersalah dan melindungi mereka yang kesalahannya tidak dapat dibuktikan.

“Prestasi penegakan hukum adalah ketepatan dalam menemukan kebenaran, bukan sekadar banyaknya perkara yang diproses,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan bahwa prinsip praduga tidak bersalah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman harus menjadi pedoman dalam setiap tahapan penegakan hukum. Hal tersebut, menurutnya, juga diperkuat dalam ketentuan KUHAP terbaru yang menempatkan pembuktian sebagai inti pencarian keadilan. Rizma berpendapat bahwa jabatan, kehadiran dalam rapat, maupun tanda tangan pada suatu dokumen tidak otomatis menjadi bukti adanya tindak pidana.

Dalam pengambilan keputusan di lingkungan BUMN, lanjutnya, terdapat mekanisme kolektif yang melibatkan berbagai fungsi sehingga pertanggungjawaban pidana tetap harus dibuktikan secara individual. Ia juga mengingatkan bahwa tidak setiap kesalahan administrasi ataupun keputusan bisnis yang berujung pada hasil yang tidak sesuai harapan dapat langsung dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi.

“Sebaliknya, apabila ditemukan unsur suap, penyalahgunaan kewenangan, benturan kepentingan, dokumen palsu, maupun keuntungan pribadi yang melawan hukum, maka seluruh pihak yang terlibat harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Dalam tulisannya, Rizma turut menyoroti pentingnya pembuktian kerugian negara yang aktual sebagaimana ditegaskan Mahkamah Konstitusi. Menurutnya, dalam perkara yang berkaitan dengan proyek atau pekerjaan fisik, penilaian kerugian negara perlu mempertimbangkan fakta pekerjaan yang telah dilaksanakan, manfaat aset, biaya riil pelaksanaan, serta dokumen-dokumen pendukung lainnya.

Pandangan tersebut juga disampaikan dengan menyinggung perkara dugaan korupsi proyek pengerukan di Pelabuhan Tanjung Perak. Rizma mengutip adanya keterangan tertulis dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang telah disampaikan di persidangan dan, menurutnya, tetap harus diuji bersama alat bukti lain, termasuk laporan keuangan auditan, kontrak, berita acara serah terima, serta dokumen pendukung lainnya.

Ia menekankan bahwa keberadaan aset hasil pekerjaan tidak serta-merta menghapus kemungkinan adanya kerugian negara. Namun, fakta mengenai manfaat pekerjaan yang telah diterima juga tidak boleh diabaikan dalam proses pembuktian.

Di akhir pernyataannya, Rizma mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum, mulai dari penyidik, penuntut umum, hakim, auditor, ahli, hingga advokat, untuk menjadikan keadilan sebagai kompas utama.

“Pemberantasan korupsi dan perlindungan terhadap hak orang yang belum terbukti bersalah bukanlah dua kepentingan yang bertentangan. Keduanya merupakan bagian dari upaya menghadirkan penegakan hukum yang adil dan berintegritas,” pungkas Risma.

Hingga berita ini diterbitkan, proses persidangan perkara tersebut masih berlangsung. Putusan akhir sepenuhnya menjadi kewenangan majelis hakim berdasarkan fakta dan alat bukti yang terungkap di persidangan. (idj)

Berita Terkait

Menhub Dudy Tinjau Langsung Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II, Apresiasi Tim Penyelamat dan Pastikan Operasi Terus Berjalan
Kemenhub Gerak Cepat Penanganan dan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II
40 Persen Pengurus Baru, DPC INSA Jaya Perkuat Regenerasi dan Sinergi Industri Pelayaran
IPCM Pertahankan Tren Positif, Pendapatan Semester I 2026 Capai Rp729,68 Miliar
Pelindo Regional 4 Gandeng Stakeholder & Pengguna Jasa, Perkuat Budaya Anti Penyuapan di Pelabuhan Makassar
Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Salurkan 1.040 Paket Sembako kepada Nelayan Kalibaru melalui Program NPEA Berbagi Tahun 2026
Program Stimulus Transportasi Masa Libur Sekolah Catat Respons Positif Masyarakat
Dirjen Hubla Lantik 22 Perwira Pandu Usai Tempuh Pendidikan Intensif di PT PMLI

Berita Terkait

Monday, 3 August 2026 - 11:06 WIB

KB P3HI: Penegakan Hukum Harus Berbasis Bukti dan Keadilan, Bukan Kriminalisasi

Monday, 3 August 2026 - 02:35 WIB

Menhub Dudy Tinjau Langsung Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II, Apresiasi Tim Penyelamat dan Pastikan Operasi Terus Berjalan

Sunday, 2 August 2026 - 09:17 WIB

Kemenhub Gerak Cepat Penanganan dan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II

Friday, 31 July 2026 - 07:40 WIB

40 Persen Pengurus Baru, DPC INSA Jaya Perkuat Regenerasi dan Sinergi Industri Pelayaran

Thursday, 30 July 2026 - 20:10 WIB

IPCM Pertahankan Tren Positif, Pendapatan Semester I 2026 Capai Rp729,68 Miliar

Berita Terbaru