IPW Soroti Dugaan Penyimpangan dalam Pengadaan Coretax: Berpotensi Rugikan Negara

- Pewarta

Saturday, 8 February 2025 - 01:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maritim Indonesia – Indonesia Procurement Watch (IPW) mengkritik program Coretax yang disebut-sebut mengalami berbagai kendala teknis dan dugaan penyimpangan dalam pengadaannya. Direktur Advokasi dan Investigasi IPW, Ronal, menilai Coretax justru menghambat wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan mereka.

“Sulitnya akses, error dalam sistem, serta ketidakmampuan aplikasi dalam menjalankan fungsi-fungsi penting seperti penerbitan e-faktur dan permintaan sertifikat digital telah menimbulkan kerugian bagi wajib pajak serta berpotensi mengurangi penerimaan negara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/2).

Lebih lanjut, Ronal mengungkapkan bahwa proyek yang menelan anggaran lebih dari Rp1,3 triliun ini diduga mengandung berbagai penyimpangan dalam proses pengadaannya. IPW menemukan indikasi ketidakterbukaan dalam penunjukan agen pengadaan, peran tim konsultan, hingga proses penentuan pemenang tender.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Berdasarkan penelusuran kami, pengadaan proyek ini tidak mengikuti ketentuan Perpres 16/2018 yang telah diubah dengan Perpres 12/2021 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa proyek ini memang sejak awal didesain tidak transparan, dengan adanya pelaksana proyek yang telah disiapkan sebelumnya,” jelas Ronal.

IPW juga mengungkap bahwa proyek Coretax tidak melalui sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (LKPP). Sebaliknya, Menteri Keuangan selaku pengguna anggaran menunjuk langsung Tim Pengadaan atau Agen Pengadaan berdasarkan Perpres 40/2018 tentang Pembaruan Sistem Administrasi Perpajakan.

“Jika penyisipan aturan pengadaan Coretax dalam Perpres 40/2018 dimaksudkan untuk menghindari mekanisme seleksi yang lebih ketat dan mengabaikan prinsip akuntabilitas, maka ini berpotensi terjadinya penyelundupan hukum (fraus legis),” tegas Ronal.

Salah satu yang disoroti IPW adalah peran Agen Pengadaan yang memiliki kewenangan besar dalam menentukan pemenang proyek. Menurut Ronal, hal ini menimbulkan pertanyaan besar terkait dasar dan pertimbangan Menteri Keuangan dalam menunjuk Agen Pengadaan tersebut.

“Apa alasan menggunakan Agen Pengadaan? Apakah ini membuka peluang bagi favoritisme dalam pemilihan perusahaan? Kami juga menemukan bahwa semua perusahaan yang terlibat dalam proyek ini adalah perusahaan asing. Apakah memang tidak ada perusahaan lokal yang mampu mengerjakan proyek ini?” ujar Ronal.

Indikasi Pembengkakan Anggaran

IPW juga menemukan kejanggalan dalam penentuan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) proyek ini. HPS proyek Coretax ditetapkan sebesar Rp1,73 triliun, sementara harga pemenang tender adalah Rp1,22 triliun, selisih hampir Rp500 miliar.

“Biasanya selisih antara HPS dan harga pemenang hanya sekitar 1%. Namun dalam proyek ini, selisihnya terlalu besar, yang menunjukkan bahwa HPS disusun tidak dengan analisis teknis dan pasar yang wajar,” ujar Ronal.

Berdasarkan perhitungan IPW, harga wajar untuk proyek ini seharusnya berkisar antara Rp700–800 miliar. Bahkan, jika dibandingkan dengan proyek DeepSeek AI yang hanya menghabiskan 6,5 juta USD atau sekitar Rp96 miliar, biaya pembangunan Coretax dinilai terlalu mahal.

“Ini menunjukkan ada dugaan pembengkakan anggaran. HPS yang besar bisa saja disusun untuk memberi kesan bahwa proyek ini telah melalui proses penawaran harga yang ketat, padahal nilai proyek seharusnya bisa jauh lebih kecil,” tambahnya.

Dengan berbagai permasalahan yang terjadi pada Coretax, IPW mendesak agar ada audit menyeluruh terhadap proyek ini.

“Kami meminta transparansi penuh dari pemerintah dalam pengelolaan anggaran proyek ini. Jika memang ditemukan penyimpangan, maka pihak terkait harus bertanggung jawab,” tutup Ronal. (ire djafar)

Berita Terkait

KPLP Tanjung Priok Kerahkan Tiga Kapal Patroli Tangani Kebakaran KMP Batu Mandi di Selat Sunda
KM Dorolonda Mulai Layani Pelabuhan Donggala pada 31 Oktober 2026
Strategi Integrated Auto Solutions Perkuat Pertumbuhan IPCC, Trafik Kargo Naik 19,57% hingga Kuartal III 2026
PELNI Raih Penghargaan ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 melalui Inovasi Daur Ulang Life Jacket
Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar
Arus Petikemas TTL Tumbuh 12,54 Persen, Tembus 2,29 Juta TEUs hingga September 2026
IPCC dukung Honda Racing Indonesia di Mandalika Festival of Speed 2026
Transformasi green dan smart terminal, TTL raih dua penghargaan internasional

Berita Terkait

Tuesday, 20 October 2026 - 23:31 WIB

KPLP Tanjung Priok Kerahkan Tiga Kapal Patroli Tangani Kebakaran KMP Batu Mandi di Selat Sunda

Tuesday, 20 October 2026 - 12:54 WIB

KM Dorolonda Mulai Layani Pelabuhan Donggala pada 31 Oktober 2026

Tuesday, 20 October 2026 - 12:19 WIB

Strategi Integrated Auto Solutions Perkuat Pertumbuhan IPCC, Trafik Kargo Naik 19,57% hingga Kuartal III 2026

Monday, 19 October 2026 - 18:10 WIB

PELNI Raih Penghargaan ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026 melalui Inovasi Daur Ulang Life Jacket

Monday, 19 October 2026 - 14:12 WIB

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

Berita Terbaru