Maritim Indonesia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat produksi dan mutu garam nasional melalui penerapan Teknologi Evaporasi Pergaraman Tunnel yang terintegrasi dengan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi ini memungkinkan proses produksi garam tetap berjalan stabil sepanjang tahun, termasuk saat musim hujan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan penggunaan teknologi SWRO di sektor pergaraman merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia. Selain meningkatkan efisiensi produksi, sistem ini juga menghasilkan air bersih sebagai produk sampingan yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir.
“Teknologi ini menghasilkan air laut bersih dengan tingkat kepekatan natrium klorida mencapai 15 derajat Baume, sehingga dapat langsung masuk ke tahap kristalisasi,” ujar Koswara saat meninjau penerapan teknologi Tunnel–SWRO di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, (4/1) baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan kualitas bahan baku tersebut, proses kristalisasi garam dapat berlangsung lebih singkat, sekitar tiga hingga lima hari dalam kondisi normal. Percepatan ini berdampak pada efisiensi biaya, konsistensi hasil, serta peningkatan mutu garam.
Koswara menambahkan, integrasi sistem tunnel dengan SWRO menjadi solusi adaptif menghadapi ketidakpastian cuaca yang selama ini menjadi kendala utama petambak garam, sekaligus mendukung keberlanjutan usaha pergaraman rakyat.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Sae Nalendra Darma Raga, Kabupaten Indramayu, Carmadi, menyebut teknologi tersebut sangat membantu petambak, terutama saat musim hujan.
“Dengan sistem tunnel dan geomembran, produksi tetap berjalan dan kualitas garam lebih bersih serta memenuhi standar industri,” ujarnya.
Penerapan teknologi Tunnel–SWRO sejalan dengan kebijakan KKP dalam mendorong modernisasi sektor pergaraman nasional guna mendukung target swasembada garam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. (idj)







